Palembang, newshanter.com – Maraknya kasus tawuran antar-pelajar yang kembali viral di media sosial memicu keprihatinan mendalam masyarakat. Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan alarm keras bagi kondisi psikologis dan tumbuh kembang remaja saat ini.
Psikolog Anak, Asiawatie Sulastri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menyoroti bahwa tindakan agresif dalam tawuran sering kali merupakan manifestasi dari pencarian identitas diri yang tersesat serta lemahnya kontrol emosi pada fase remaja.
“Remaja berada dalam fase identity versus role confusion. Ketika mereka tidak mendapatkan wadah yang tepat untuk mengekspresikan diri, rasa memiliki (sense of belonging) yang dicari justru ditemukan dalam kelompok sebaya yang negatif. Rasa diterima oleh kelompok sering kali mengalahkan pertimbangan logika dan risiko bahaya,” ungkap Asiawatie Sulastri.
Beliau juga menambahkan bahwa fenomena ikut-ikutan (peer pressure) dan dorongan untuk diakui sebagai sosok yang ‘hebat’ atau ‘berani’ menjadi pemicu utama anak-anak ini rela turun ke jalan membawa senjata tajam.
Krisis Kanalisasi Emosi: Anak-anak membutuhkan ruang yang sehat untuk menyalurkan energi berlebih dan frustrasi mereka, baik melalui olahraga, seni, maupun kegiatan ekstrakurikuler yang terarah.
Kurangnya Komunikasi Emosional di Rumah: Pengawasan orang tua tidak cukup hanya sebatas fisik, melainkan butuh keterikatan emosional. Anak yang merasa didengar dan dihargai di rumah cenderung memiliki benteng emosi yang lebih kuat.
Dampak Paparan Media Sosial: Konten kekerasan yang viral kerap memberi panggung atau ‘glorifikasi’ semu bagi para pelaku tawuran.
“Penanganan tawuran tidak bisa hanya mengandalkan sanksi atau hukum retributif. Kita harus menerapkan pendekatan yang mendidik (restorative). Anak perlu dipahami akar masalahnya, dibantu mengelola regulasi emosinya, dan diarahkan kembali pada peran sosial yang positif,” tegas Asiawatie Sulastri.
Sinergi antara keluarga, pihak sekolah, dan lingkungan masyarakat menjadi kunci utama untuk memutus rantai kekerasan ini agar generasi muda dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung. (*)









