Peringati Hari Puisi Indonesia, Edwin Fast Gaungkan Sastra di Ruang Publik Palembang

Palembang, garudajelajah.com – Dalam rangka memperingati Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap 26 Juli, penggiat sastra Sumatera Selatan, Edwin Fast, bersama sejumlah seniman menggelar pembacaan puisi di ruang publik, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan diawali dengan pembacaan puisi legendaris “Karawang-Bekasi” karya Chairil Anwar di kawasan Jalan Balap Sepeda (Kampus), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sejumlah karya puisi Edwin Fast di Taman Andasan Pemikiran.

Menurut Edwin Fast, puisi merupakan media ekspresi yang mampu menyuarakan kegelisahan, harapan, sekaligus kritik terhadap berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, pembacaan puisi di ruang publik dipilih agar karya sastra lebih dekat dengan masyarakat.

Secara internasional, Hari Puisi Sedunia diperingati setiap 21 Maret, sejak ditetapkan UNESCO pada 1999. Peringatan tersebut bertujuan mendukung keragaman bahasa, melestarikan bahasa yang terancam punah, serta mendorong apresiasi terhadap karya sastra dan tradisi pembacaan puisi di seluruh dunia.

Sementara di Indonesia terdapat dua versi peringatan Hari Puisi. Versi pertama menetapkan 28 April, bertepatan dengan hari wafat Chairil Anwar, yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama para sastrawan dalam Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia. Adapun versi kedua menetapkan 26 Juli, bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, yang dideklarasikan oleh 40 penyair dari berbagai daerah di Indonesia pada 22 November 2012 di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau.

Terlepas dari perbedaan tanggal peringatannya, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mengenang jasa Chairil Anwar sebagai pelopor puisi modern Indonesia yang menghadirkan gaya penulisan lebih bebas, ekspresif, dan berpengaruh besar terhadap perkembangan sastra nasional.

Edwin menilai puisi merupakan ruang ekspresi manusia yang padat makna dan mampu merekam realitas sosial maupun lingkungan. Melalui simbol, bunyi, dan bahasa yang puitis, puisi menjadi sarana menyampaikan sikap terhadap berbagai persoalan yang dialami manusia maupun alam sekitarnya.

Dalam rangkaian kegiatan bertajuk “Pembacaan Puisi Ruang Publik”, Sanggar Seni Budaya Teater Alam Palembang berencana menggelar pembacaan puisi di sejumlah titik, di antaranya Taman Wisata Kedatuan Sriwijaya, Muara Sungai Sekanak, Taman Simpang Polda, hingga trotoar Jalan Kapten A. Rivai.

Mengusung tema “Sungai, Sampah, dan Kota dalam Puisi”, kegiatan ini mengangkat isu-isu lingkungan perkotaan yang semakin memprihatinkan. Melalui puisi, para seniman menyuarakan keresahan terhadap pencemaran sungai, berkurangnya ruang hijau, meningkatnya polusi udara, hingga hilangnya kawasan rawa dan lebak akibat alih fungsi lahan.

“Puisi kini dapat berteriak di mana saja. Jika tak lagi bisa mengalir bersama sungai yang hilang, ia akan terbang melalui gelombang media sosial dan menembus segala batas,” ungkap Edwin.

Kegiatan yang mengusung slogan “HariPuisi, Hari Ini dan Kapan Pun” tersebut diselenggarakan oleh Sanggar Seni Budaya Teater Alam Palembang sebagai ajakan kepada masyarakat untuk terus menghidupkan sastra sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kekuatan kata-kata. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *